Showing posts with label Tokoh NU. Show all posts
Showing posts with label Tokoh NU. Show all posts

Wednesday, July 20, 2016

Pembelaan Gus Dur Kepada Komunis (PKI)

Hasil pertemanan Gus Dur dengan Komunis/PKI di masa-masa tumbuh kembangnya, menjadikan Gus Dur gigih melindungi dan membela Komunis/PKI.

Dengan kedok kebebasan, atas nama demokrasi, atau memperjuangkan HAM, berbagai upaya Gus Dur lakukan, baik secara lisan, tulisan, kekuatan dan tindakan terus dia lancarkan.

Sungguh ironi, di satu sisi NU dan kaum muslimin menjadi korban keganasan PKI, di sisi yang lain tokoh yang dibanggakan NU, seorang yang disebut ulama bahkan digadang sebagai wali oleh warga Nahdliyyin tersebut justru menjadi pembela utama kaum pengingkar tuhan negeri ini.
REKAM JEJAK PEMBELAAN GUS DUR KEPADA KOMUNIS (PKI)

1. Menulis Kata Pengantar Untuk Buku Anak PKI
Saat Ribka Tjiptaning menulis buku "Aku Bangga Jadi Anak PKI" Gus Dur menulis sambutan dalam bukunya.
Tak hanya itu, pada saat launching buku tersebut Gus Dur pun turut menghadiri dan datang lebih awal dari jadwal yang ditentukan. Padahal, Gus Dur sebenarnya sudah memiliki acara di luar kota namun dibatalkan.
"Pak Dur (Gus Dur) saat itu datang lebih awal satu jam. Pak Dur mengaku takut launching buku saya diserbu,"

ucap Ribka.

Bahkan ketika Ribka Tjiptaning hendak menulis buku kedua, yang akan diberi judul "Anak PKI Masuk Parlemen", Gus Dur mengetahui, setuju dan hanya tertawa.
"Pak Dur saat itu pun tertawa mendengar judul tersebut. Pak Dur berkata 'sampean kok bikin judul yang seram-seram,"

ujarnya.

2. Meminta Maaf Kepada PKI

Gus Dur minta maaf kepada PKI, ketika berkunjung ke rumah Pramudya Ananta Toer, seorang sastrawan yang juga tokoh Lekra (ormas PKI). Meskipun akhirnya Gus Dur harus menelan pil pahit, karena sebaliknya tokoh PKI Pramudya Ananta Toer tidak mau meminta maaf pada NU.


Ini sekaligus menunjukkan bahwa PKI adalah kaum pendendam, hanya menuntut pihak lain untuk meminta maaf, namun tidak sebaliknya.

Seharusnya kader-kader PKI yang hari ini masih hidup dan anak-anak PKI, merekalah yang harus meminta maaf, atas tiga kali kudeta yang mereka lakukan. Karena PKI lah yang memberontak, membunuh dan membantai rakyat negeri ini. Adapun korban berjatuhan dari pihak PKI sebagai imbas atau akibat perbuatan mereka sendiri.

3. Gus Dur Mengusulkan Untuk Mencabut TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966
Kader-kader Partai Komunis Indonesia (PKI) atau anak-anak PKI memperoleh angin segar saat Gus Dur menjadi presiden. Karena saat itu Gus Dur yang mantan Ketum PBNU tersebut dengan lantang menyerukan penghapusan TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966.

Yaitu Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia Nomor XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia bagi Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Faham atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme.

Jika TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966 berhasil dicabut atau dihapuskan, maka PKI-Komunis-Marxisme-Leninisme-Aiditisme-Maoisme akan mudah mencengkeramkam taring Ateisme di negeri ini.

Video pembelaan Gus Dur terhadap PKI, dengan berupaya mencabut TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966, bisa simak di sini:


Namun gaung usul pencabutan TAP MPRS XXV/1966 berakhir bersamaan dengan berakhirnya kepemimpinan presiden Gus Dur. Pada rapat fraksi komisi B DPR RI hari Minggu 3 Agustus 2003, semua fraksi sepakat tidak mencabut TAP MPRS XXV/1966, termasuk Fraksi TNI/Polri.


4. Bagi Gus Dur, Orang Komunis Bukan Kafir

Hal ini sebagaimana dipersaksikan oleh Gus Mus, dalam acara haul Gus Dur keempat pada 16 Desember 2013 di Yogyakarta, Gus Mus berkata:
"Dia (Gus Dur) menganggap orang komunis sebagai sesama manusia, bukannya orang-orang kafir."


Jika benar nukilan dari Gus Mus ini, maka sungguh pernyataan Gus Dur tersebut bagian dari pemutar balikkan fakta, karena jelas-jelas pendiri Komunis Karl Marx menegaskan:
“Eksistensi Tuhan tidak masuk akal!
Tuhan adalah konsep yang menjijikkan!
Pendek kata, aku menaruh dendam kepada apa saja yang dinamakan dengan Tuhan!”

Karl Marx juga mengatakan:
“Agama adalah racun narkoba bagi masyarakat!
Menghujat agama adalah syarat utama dari semua hujatan!”

Gembong komunis lainnya Lenin berkata:
“Matilah!
Mampuslah agama!
Hiduplah Atheisme!
Kita harus memperlakukan agama dengan bengis!
Kita harus memerangi agama!”
Dari pernyataan tokoh-tokoh Komunis di atas nyatalah bahwa kaum Komunis bukan saja kafir, bahkan Atheis, anti Tuhan dan anti agama.

Justru keyakinan Gus Dur ini menunjukkan pembelaannya yang paripurna kepada Komunis dan PKI.
Allahul Musta'an

Tuesday, July 19, 2016

Gus Dur di Bawah Asuhan Komunis

Gus Dur mantan Ketum PBNU dikenal sangat dekat dengan Komunis, hal ini bisa diketahui dari masa tumbuh kembangnya, ucapan-ucapan, statemen-statemen dan tindakan-tindakannya.

GUS DUR DI BAWAH ASUHAN KOMUNIS
Seperti kita ketahui sejak dini Gus Dur dididik di SD Kris Jakarta. Kemudian Melanjutkan ke SMEP Gowongan Yogyakarta yang dikelola oleh Yayasan GEREJA KATOLIK ROMA. Ditengah proses belajar Gus Dur di sekolah Kristen Katolik tersebut, Gus Dur bergaul dan diasuh oleh 2 orang guru yang berpaham komunis Pak Sumantri, dan Bu Robi’ah yang anggota Gerwani -Gerakan Wanita milik Partai Komunis Indonesia (PKI).


Bahkan dikemudian hari Gus Dur banyak mempelajari buku-buku komunis karangan dua gembong komunis dunia, buku “What is to Be Done” karangan Lenin, dan buku “Das Capital” karya Karl Marx. Buku-buku itu dipinjam Gus Dur dari Sumantri gurunya yang komunis tersebut.


Demikian pula Gus Dur muda senantiasa bergaul dengan Saimo, seorang anggota Pemuda Rakyat -Gerakan Pemuda PKI. Yang menceritakan kegiatan dan berbagai gagasan komunis yang mereka usung, sehingga menjadikan Gus Dur sangat tertarik kepada paham komunis.

KEAKRABAN KH WAHID HASYIM DENGAN TOKOH KOMUNIS TAN MALAKA

Pada hari Senin, 04 April 2016, media resmi NU, menampilkan sebuah berita tentang hubungan baik antara KH Wahid Hasyim ayah Gus Dur dengan Tan Malaka tokoh Komunis Indonesia, yang juga merupakan anggota komintern (jaringan komunis) internasional.
Dalam ulasan tersebut dikisahkan:
Waktu itu Gus Dur bercerita,
"Ayah saya yang kebetulan seorang kiai sering didatangi orang di waktu sore. Saya ingat betul, saat saya masih kecil, sekitar pukul 7 ada orang mengetuk pintu. Ketika pintu saya buka, saya tanya cari siapa pak?
Tamu yang mengaku bernama Husein tersebut kemudian menjawab bahwa dia mencari ayahnya. Tamu tersebut menurut Gus Dur seperti orang Indonesia lainnya, yaitu juga pakai peci. Kemudian Gus Dur yang masih anak-anak, itu memberitahukan kepada ayahnya yang sedang di dalam bahwa beliau dicari Pak Husein.
Begitu mendengar nama Husein, kata Gus Dur, ayahnya langsung bangun dan menemui tamunya sambil berpelukan mesra. Dan selanjutnya memerintahkan Gus Dur yang waktu itu masih berumur sekitar 4-5 tahun agar meminta ibunya menata hidangan.
Baru belakangan setelah Gus Dur berumur 50 tahun lebih, ibunya mengatakan kepadanya, "Kamu tahu siapa itu pak Husain, yang datang pada malam-malam dahulu, itu Tan Malaka".

Bahkan pengaruh pertemanan KH Wahid Hasyim ayah Gus Dur dengan Tan Malaka tersebut sangat membekas dan mempengaruhi jalan hidup Gus Dur, sebagaimana ditegaskan:
Dari pengalaman di atas, menurut Gus Dur, memberikan bekas yang sangat dalam kepada dirinya. Hal itu menambah kuatnya keyakinannya bahwa sudah dari dulu pun nenek moyang kita (bangsa indonesia) sudah demikian saling menghargai.

Gus dur mengajukan alasan, bagaimana tidak saling menghargai.
"Bayangkan, Tan Malaka, anggota komintern yang dianggap tidak bertuhan itu datang berpeluk-pelukan dengan seorang kiai. Inilah Indonesia,"

ungkap Gus Dur dengan nada serius.
Melihat kisah di atas, kita teringat dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam:

مَا مِنْ مَوُلُودٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلىَ الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

"Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Demikianlah persinggungan dan pergaulan Gus Dur dengan kaum Komunis, yang akhirnya merubah prinsip dan jalan hidup Gus Dur.

Di kemudian hari Gus Dur dikenal sebagai pembela Komunis dan PKI di negeri ini.
Allahul Musta'an

INGIN SELAMAT? IKUTILAH BIMBINGAN NABI DALAM MEMILIH TEMAN BERGAUL!

Maka benarlah sabda Nabi Muhammadshallallahu 'alaihi wa sallam yang telah membimbing umat agar memilih teman yang baik dalam pergaulannya.
Beliau shallallahu 'alaihi wa sallambersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

"Seseorang bergantung pada agama teman dekatnya. Maka dari itu, perhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya.” (Lihat ash-Shahihah, no. 927)

Dalam hadits yang lain, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam kembali mengingatkan:

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَجَلِيسِ السُّوءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يَحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا مُنْتِنَةً

Sesungguhnya permisalan teman duduk yang baik dengan teman duduk yang jelek seperti pembawa misik dan pandai besi. Seorang pembawa misik, bisa jadi engkau akan peroleh darinya (diberi) misik, bisa juga engkau membelinya, bisa juga sekadar mendapat aroma wanginya. Adapun pandai besi, bisa jadi pakaianmu yang terbakar atau dirimu mendapatkan aroma tidak sedap.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Trending

Bukan Karena Pasukan China Wahai Profesor

Ketika Profesor Islam Nusantara Said Aqil Siradj berpidato mengelu-elukan PASUKAN CINA AGRESOR yang "jasanya" berhasil membunuh 5...